Rockstar!
Seorang musisi rock memukuli istrinya, menyetir dalam keadaan mabuk, lalu ditahan karena kepemilikan obat-obat terlarang. Selama beberapa tahun, ia harus mendekam di sel. Setelah bebas, ia menceraikan istrinya lalu menjalin hubungan dengan beberapa perempuan tanpa pernah menikahinya. Akhir hidupnya, ia depresi dan mencoba bunuh diri beberapa kali.
Berita yang mengagetkan? Gak. “Namanya juga rockstar…” Gue jamin itu yang ada di kepala lo.
Selama waktu berjalan, kita gak akan pernah lepas dari stereotyping dan labeling. Orang-orang yang “menentang” itu adalah orang-orang bodoh yang gak menerima kenyataan.
So, what should we do about it?

Brian May adalah lead guitarist dari band legendaris, Queen. Ia termasuk “100 Greatest Guitarists of All-Time” versi majalah Rolling Stone. Setelah perjalanan luar biasanya dalam bermusik, tak ada yang berani meragukannya.
Sepintas saja, dia terlihat gondrong dan urakan. Orang sepertinya sangat cocok memukuli istri, mabuk-mabukan, dan masuk penjara.
Tunggu dulu…
Di balik kehidupan bermusiknya, Brian May adalah seorang akademisi. Ia memiliki titel PhD dari Imperial College London untuk fisika dan matematika. Ia menerbitkan beberapa karya ilmiah, yang antara lain adalah “Bang! – The Complete History of the Universe”, bersama Patrick Moore dan Chris Lintott.
Tanggal 17 November 2007, ia ditunjuk sebagai rektor Liverpool John Moores University, menggantikan Cherie Blair.
Gak cocok dengan stereotype seorang rockstar? Gak juga. Karena dalam kehidupan nyata, seorang rockstar gak pernah seburuk itu. Semua adalah permainan media.
Pada akhirnya, hanya ada satu cara untuk bersinar: beat people’s guessing machine. Keluar dari stereotyping dan labeling yang biasa dilakukan orang. Tepat seperti yang dilakukan Brian May.




