Keroncong(an)
Ceritanya, Jumat kemarin saya nonton diskusi dan pertunjukan keroncong di Obrolan Langsat. Gerimis berjatuhan dengan malas, membuat udara jadi adem; suasana paling pas untuk reriungan berkeroncong.

Dari mimbar, nada dan syair yang menggelitik dilantunkan Ages Dwiharso dan Komunitas Taman Suropati-nya. Rasanya, waktu bergulir begitu cepat. Kacang goreng saya pun tandas seketika.
Setelah dihibur dengan musik, acara berganti format menjadi diskusi. Ages Dwiharso (Komunitas Taman Suropati) dan Riza Arshad (Simak Dialog) mulai menyampaikan gagasan-gagasannya tentang musik secara umum dan keroncong secara khusus. Ndoro Kakung bertindak sebagai moderator.
Ada satu pernyataan Ages Dwiharso yang menarik perhatian saya: “Saya sudah berkomitmen untuk membuat keroncong ini tidak hilang. Harus tetap ada.”
Saya jadi mikir, daripada berjuang agar tidak hilang, kenapa tidak berjuang agar jadi besar? Upaya dan tenaga yang dikerahkan toh sama saja.
Akhirnya, saat hadirin dipersilakan bertanya, saya melontarkan pertanyaan sekaligus pernyataan, “Suatu jenis musik itu bisa besar karena dikelola dengan cara industri. Lihatlah band-band sekarang, gak semuanya bagus, kan? Tapi, karena mungkin personilnya ganteng dan cantik, lantas terkenal. Keroncong sendiri sempat membuat anak-anak muda terkesan saat Bondan Prakoso membawakannya. Bayangkan jika ada 5 Bondan di keroncong. Bukankah dampaknya akan lebih terasa?”
Saya berpikir dari segi efisiensi saja. Kalau upaya 50% menghasilkan 70%, kenapa memilih upaya 70% dan “cuma” menghasilkan 50%? Mas Ages kontan menjawab pertanyaan saya, “Nah, masalahnya adalah masyarakat sendiri belum aware terhadap keroncong. Jadi, mencari 5 Bondan itu sulit sekali. Kita sekarang ini yang penting menanamkan awareness dulu pada masyarakat, baru mencari Bondan-Bondan berikutnya.”
Saya setuju dan tidak. Masyarakat itu sudah aware terhadap keroncong, namun mulai berpaling ke musik lain. Logikanya begini: orang bisa berpaling karena sudah aware, bukan sebaliknya.
Masalah yang sebenarnya adalah packaging. Keroncong ala Bondan berhasil karena image dan packaging Bondan yang menarik—muda, trendy, peduli. Orang melihat keroncong yang berbeda yang ditawarkan Bondan. Keroncong yang mengikuti zaman. Trendy.
Jadi, lakukanlah dengan cara industri. Jangan berbicara dan berpakaian jadul. Buatlah image keroncong yang modern dan youthful. Memang bicara itu gampang dan praktek itu susah, dan seperti kata mas Ages, mencari 5 Bondan itu sulit.
Namun, satu-satunya jalan memang hanya itu: lakukan dengan cara industri—ciptakan yang fresh, bukan memperjuangkan yang usang.



