Keroncong(an)

Wednesday, 28 July 2010, 17:00 | Category : Musik
Tags :

Ceritanya, Jumat kemarin saya nonton diskusi dan pertunjukan keroncong di Obrolan Langsat. Gerimis berjatuhan dengan malas, membuat udara jadi adem; suasana paling pas untuk reriungan berkeroncong.

keroncong

Dari mimbar, nada dan syair yang menggelitik dilantunkan Ages Dwiharso dan Komunitas Taman Suropati-nya. Rasanya, waktu bergulir begitu cepat. Kacang goreng saya pun tandas seketika.

Setelah dihibur dengan musik, acara berganti format menjadi diskusi. Ages Dwiharso (Komunitas Taman Suropati) dan Riza Arshad (Simak Dialog) mulai menyampaikan gagasan-gagasannya tentang musik secara umum dan keroncong secara khusus. Ndoro Kakung bertindak sebagai moderator.

Ada satu pernyataan Ages Dwiharso yang menarik perhatian saya: “Saya sudah berkomitmen untuk membuat keroncong ini tidak hilang. Harus tetap ada.”

Saya jadi mikir, daripada berjuang agar tidak hilang, kenapa tidak berjuang agar jadi besar? Upaya dan tenaga yang dikerahkan toh sama saja.

Akhirnya, saat hadirin dipersilakan bertanya, saya melontarkan pertanyaan sekaligus pernyataan, “Suatu jenis musik itu bisa besar karena dikelola dengan cara industri. Lihatlah band-band sekarang, gak semuanya bagus, kan? Tapi, karena mungkin personilnya ganteng dan cantik, lantas terkenal. Keroncong sendiri sempat membuat anak-anak muda terkesan saat Bondan Prakoso membawakannya. Bayangkan jika ada 5 Bondan di keroncong. Bukankah dampaknya akan lebih terasa?”

Saya berpikir dari segi efisiensi saja. Kalau upaya 50% menghasilkan 70%, kenapa memilih upaya 70% dan “cuma” menghasilkan 50%? Mas Ages kontan menjawab pertanyaan saya, “Nah, masalahnya adalah masyarakat sendiri belum aware terhadap keroncong. Jadi, mencari 5 Bondan itu sulit sekali. Kita sekarang ini yang penting menanamkan awareness dulu pada masyarakat, baru mencari Bondan-Bondan berikutnya.”

Saya setuju dan tidak. Masyarakat itu sudah aware terhadap keroncong, namun mulai berpaling ke musik lain. Logikanya begini: orang bisa berpaling karena sudah aware, bukan sebaliknya.

Masalah yang sebenarnya adalah packaging. Keroncong ala Bondan berhasil karena image dan packaging Bondan yang menarik—muda, trendy, peduli. Orang melihat keroncong yang berbeda yang ditawarkan Bondan. Keroncong yang mengikuti zaman. Trendy.

Jadi, lakukanlah dengan cara industri. Jangan berbicara dan berpakaian jadul. Buatlah image keroncong yang modern dan youthful. Memang bicara itu gampang dan praktek itu susah, dan seperti kata mas Ages, mencari 5 Bondan itu sulit.

Namun, satu-satunya jalan memang hanya itu: lakukan dengan cara industri—ciptakan yang fresh, bukan memperjuangkan yang usang.

Brandon: Saya Ingin Tampil di Depan Presiden SBY

Monday, 26 July 2010, 16:39 | Category : Musik
Tags :

Biasanya, saya cuma nyalain TV untuk nonton bola dan The Simpsons. Entah ada angin apa, tumben-tumbenan semalam saya nyangkut di acara Indonesia Mencari Bakat, pas giliran kolaborasi Brandon, Fay, dan JP Millenix.

anak indonesia

Jadilah saya menyaksikan talenta-talenta masa depan Indonesia ini. JP menghentak dengan permainan drumnya, yang langsung disusul Brandon dan Fay dengan tarian modernnya.

Sampai di sini semua masih tampak biasa. Saya tahu mereka memang mampu melakukan apa yang mereka pertunjukkan malam itu. Yang spesial justru saat mereka diberikan pertanyaan begini: kalian ini cita-citanya ingin tampil di depan siapa?

Dan jawaban yang paling menggugah hati saya datang dari Brandon. “Saya ingin tampil di depan Presiden SBY.” Wah, boleh juga nih anak, batin saya. “Kenapa?” tanya Omesh.

“Karena nama acara ini, kan, Indonesia Mencari Bakat, jadi saya ingin Pak Presiden melihat.” Kata-kata tersebut ditutup dengan pernyataan JP: “Selamat Hari Anak. Stop kekerasan terhadap anak. Sukses buat anak-anak bangsa.”

Saya jadi ingat waktu dulu seumur mereka, saya hanya main layangan, main sepeda, lalu masuk comberan. Belum berani saya bermimpi setinggi itu. Satu-satunya hal yang bisa saya banggakan adalah memenangi Kontes Abang None se-kecamatan Tebet.

Kata-kata mereka kemarin mengingatkan saya pada frase terkenal “Never underestimate the heart of a champion”. Setiap hari saya bertemu orang dewasa, namun hati saya benar-benar tergugah justru ketika melihat mental pemenang yang terpancar dari anak-anak kecil ini.

Meskipun terlambat, saya ingin mengatakan sekali lagi, selamat hari anak! Stop kekerasan terhadap anak.

Idola Indonesia?

Saturday, 24 July 2010, 1:46 | Category : Musik, Serba-Serbi Masyarakat
Tags :

Timeline saya selalu penuh dengan Indonesian Idol setiap Jumat malam. Acara ini, meski tak pernah berhasil mengorbitkan superstar, ternyata masih disambut dengan gempita oleh masyarakat. Lantas, di mana salahnya?

microphone

Semua orang setuju bahwa kualitas kontestan menurun setiap tahun. Menurut saya, khusus tahun ini, kualitasnya malah menukik tajam. Kebanyakan teman saya pun menonton hanya karena dua alasan: 1. Agnes Monica, 2. Semua orang nonton.

Kesimpulan saya kira-kira begini: semua orang tahu bahwa kontes ini tak sanggup menelurkan bakat luar biasa, namun semua orang butuh dihibur setelah lelah bekerja seharian. Semua orang menyukai acaranya, bukan produk lanjutannya. Lalu, apa yang terjadi setelah acara berakhir?

Kontestan perlahan-lahan dilupakan, namun acaranya tetap dirindukan dan dinantikan. Kontestan kalah, industri menang. Kontes ini hanya butuh penyanyi yang tak jelek-jelek amat, kok. Setelah itu, kemaslah dengan drama dan haru. Duaarr! Acara laku keras, kontestan tak jelas nasibnya.

Ah, palingan abis ini tenggelam…

Itulah yang ada di benak saya dan anda. Jadi, untuk berhasil setelah Indonesian Idol, kontestan mutlak harus menanggalkan brand Indonesian Idol yang sudah terlanjur melekat. Tidak gampang.

Saya pribadi berpikir, tak ada praktik personal branding yang lebih bodoh dari melekatkan brand gagal pada diri sendiri. Ini dunia hiburan, bung. Dunia image.

Bijaksanalah melangkah.