Musik Sudah Punah!

Music – art form whose medium is sound
Jika diterjemahkan, definisi musik di atas adalah bentuk seni yang mediumnya adalah suara.
Ketika seseorang membuat musik dengan tujuan bisnis semata lalu mengabaikan unsur seni serta estetikanya, apakah hasil karya tersebut masih bisa disebut musik?
Ketika seseorang membuat lagu hanya dalam waktu lima menit sehingga liriknya tidak bermakna apa pun, apakah hasil karya tersebut masih bisa disebut musik?
Ketika seseorang melihat musik sebagai ladang subur untuk memanen uang, apakah ia bisa disebut sebagai musisi?
Musik adalah sesuatu yang spiritual. Musisi sejati berkarya untuk memberi nyawa pada kehidupan.
Tampaknya ini hanyalah idealisme gue semata, namun satu hal yang pasti: musik sudah punah.


1betahita
wrote on 2 March 2010 at 12:10
Musisi idealis = gak banyak duit.
band kampung = kaya raya!
2didut
wrote on 2 March 2010 at 12:13
hmm..sebagai pendengar saya hanya bisa menikmati apa yg dihidangkan saja
3Aubrey.ade
wrote on 2 March 2010 at 12:14
pergumulan antara yang semestinya (baca:idealisme) dgn yang dibutuhkan (baca: selera pasar yg harus diikuti). Nice thought,El
enw, yakin deh, segala sesuatu akan bergerak alami ke titik keseimbangan, artinya,kalaupun skrg org lbh mementingkan komersialisme drpd musikalitas, toh ntar pd masanya, org bosen dan muak liat karya2 nya yg asal jadi – CMIIW.
4jensen99
wrote on 2 March 2010 at 12:21
Kalo tulisanmu diatas diomelkan rapper dengan diiringi DJ, jadi musik juga kok. Dan bisa dijual.
Santai dikitlah el! Musik itu seni dan jalan hidup, tapi musik juga industri yang kapitalis. Sama aja dengan sepakbola.
5macangadungan
wrote on 2 March 2010 at 12:30
pesimis?
doesn’t sound like elia bintang.
6kenyo
wrote on 2 March 2010 at 13:15
mengenai music…. saya cuma tau kemaren ada dahsyatnya award… ade saya nonton saya jadi ikutan nonton…
7sapiterbang
wrote on 2 March 2010 at 13:19
wah…komentarnya mba Aubrey Ade keren juga
titik equilibrium
8DV
wrote on 2 March 2010 at 14:29
Hehehe tulisan yang menarik…
tapi kupikir tidak ada satupun di dunia ini yang tidak punya maksud, Bro.
Musik, seperti halnya apapun bisa dijadikan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan manusia. Kamu (dan akupun setuju denganmu) menganggap musik karya seni, memuaskan idealisme kita, tapi di sisi lain mereka juga tak salah sebenernya menjadikan musik untuk memuaskan perut mereka.
My two cents
9oglek
wrote on 2 March 2010 at 15:20
wah idealisme kamu tinggi banget ya, mungkin kamu udah pantes disebut padri-nya musik
. Tapi susah juga sih kalo musisi terlalu idealis, nggak laku!!!
Kalau menurut saya sih mending diambil jalan tengah aja, bermusik secara idealis tapi tetap gak ngelupain isi perut
10Bantal
wrote on 2 March 2010 at 16:18
Aku punya beberapa temen ngeband yang sudah rilis musik juga, walaupun pasar lokalan. Mereka sebetulnya penggemar rock, tapi lagu2 mereka malah semacam pop pop gitu, kayak jikustik, sheila, dll.
Aku tanya kenapa gak ngerock aja sekalian, mereka bilang “selera pasarannya yang laku lagu beginian sih…” kata mereka -_-;
Tapi selain itu, masih banyak lah musik2 yang benar benar penuh dengan inspirasi, contohnya… (ah lagu lagu anime semua yang kudengar, hahahaha@! kamu gak suka paling xD)
11elia bintang.
wrote on 2 March 2010 at 16:35
@betahita tampaknya di indonesia memang begitu ya bro
@didut sebagai penghidang, saya berterima kasih punya pendengar
@aubreyade setuju, saya juga percaya itu. jadi saya sih main apa yang saya ingin mainin aja
@jensen99 saya juga setuju. saya cuma berpikir produser di sini terlalu takut sama yg namanya “selera pasar” pdhl selera pasar itu bisa dibentuk dan diarahkan. musik luar itu variatif karena produser2nya berani dan ga terperangkap dlm status quo. dlm jangka panjang, keberanian mereka justru menciptakan pasar yg lbh luas
@macangadungan ga pesimis kok.. tulisan ini cuma sarkastik aja
@kenyo saya malah ga nonton kmrn itu
@sapiterbang iya, saya juga suka
@dv memang ga salah bro. semua orang kan bebas berekspresi. namun memang ada hal2 yg dirusak oleh kapitalisme
@oglek setuju2.. selama ada pasarnya, perut sih tetep terisi kok
@bantal balik ke komen saya di atas sih. selera masyarakat itu bentukan produser, bukan sebaliknya. namun banyak yg ga menyadari itu dan menyerah pada status quo
12boneth
wrote on 2 March 2010 at 17:42
wuah.. punah gimana?
yang tiap ari saya dengerin itu apa dooongg?? XD
tapi emang, skrg byk bangeettt lagu2 yang nggak berbobot.. asal jadi ajah.. huh!
*eh musik sama lagu beda yah??*
*garuk2 bingung*
13galeshka
wrote on 2 March 2010 at 19:19
Jujur agak jadi bingung. Terus kalo ada musisi yang bikin lagu, dan saya kebetulan suka gimana dong? Cukup kasih tepuk tangan?
Pada satu titik rasanya ya mau gak mau duit berperan juga kan, minimal sbg penyambung hidup? atau mungkin mereka harus punya pekerjaan lain, dan musik hanya sebagai sambilan?
14aRuL
wrote on 2 March 2010 at 19:27
permasalahannya adalah seni dan estetika itu relatif…
hehe
mau yg dibuat semenit sama bertahun2, kadar seni dan estetikanya tergantung pendengar kan?
buktinya musik yg diciptakan hanya utk bisnis tetap aja laku, dan org suka mendengarnya
15imadewira
wrote on 2 March 2010 at 20:42
menurut saya, musik itu relatif
16fisto
wrote on 2 March 2010 at 22:56
menurut saya, musik tidak akan pernah punah…dia lahir bersamaan dengan terciptanya peradaban manusia dan akan musnah ketika manusia punah.
kalo bicara ttg kualitas, mungkin bisa naek bisa turun lah…
17Hariez
wrote on 3 March 2010 at 0:30
untuk saat ini gw akui ya..musik di negeri sendiri udah gak karu-karuan sob…entah dimana musik yang realitanya bener2 dimainkan musisi beneran bukan just cuap2 dapet duit tenar dan bla..bla..bla..gw kangen musik pendobrak tradisi yg nyeleneh…layaknya MARJINAL
selamat malam & selamat beristirahat
-salam hangat-
18vany
wrote on 3 March 2010 at 6:35
music is my life…
my life is music…
duh, saia gak bisa bayangin kalo musik bnr2 punah, mas el…hehehe
tapi, memang benar siyh kalo musik lokal skrg diarahkan dan disesuaikan dengan kebutuhan pasar….
19andry sianipar
wrote on 3 March 2010 at 8:07
Salam super-
Salam hangat dari pulau Bali-
music adalah bahsa yang universal…
saya rasa gak bakalan punah…….
20Yessi
wrote on 3 March 2010 at 8:39
belum! tapi hampir!
nah..tugas lo yang harus jaga biar ga sampe punah
21pandaya
wrote on 3 March 2010 at 9:43
setuju soal mainkan musik yg kita sendiri suka aja
kl perlu bikin label sendiri, biar bs produksi apa yang kita suka
22elia bintang.
wrote on 3 March 2010 at 9:51
@boneth musik dan lagu itu seperti simple syrup dan brown sugar
@galeshka ga ada yg salah bro dengan duit.. toh kita hidup kan pake uang jg. tapi mencari uang pun kan ada etikanya. kl gue sih memilih untuk menjaga seni di dalam musik itu sendiri
@arul standarnya sih bukan laku kl mnrt saya. indra lesmana dan tohpati jg penjualannya biasa2 aja pdhl musiknya keren
@imadewira setuju
@fisto iya, semuanya memang ada naik turunnya sampai tercipta keseimbangan
@hariez inilah yang org2 industri ga peduli. asal cantik, bisa cuap2 dikit, lgsg dibikinin album. pdhl mah kualitasnya ga layak
@vany sbnrnya ga masalah sih. tapi banyak yg ga berani mengarahkan selera pasar dan hanya takluk pada status quo
@andry bahkan kita bicara pun ada nadanya
@yessi betul.. semoga bisa
@pandaya cita2 semua musisi sih gitu. semua orang punya idealismenya masing2 kan
23tary
wrote on 3 March 2010 at 10:22
itulah fenomena yg terjadi pada dunia musik tanah air kita, coba dech liat yg baru2 apalagi yg aliran METAL (melayu total) ancurr menurut gue.
24senny
wrote on 3 March 2010 at 10:35
habis gimana dong, klo mengikuti yang ideal, nggak laku musiknya
25Yolanda
wrote on 3 March 2010 at 11:28
bener tuh El
setuju gue sama idealisme lo
sekarang ini (kususnya di indo), musiknya tuh uda gak kek dulu.
banyak lirik2 lagu yg menurut gue sih mutunya kurang
26jensen99
wrote on 3 March 2010 at 23:05
Baidewei, karena kamu musisi idealis, coba baca tulisan temenku ini dan ikuti perdebatan di komen2nya.
27Vicky Laurentina
wrote on 4 March 2010 at 9:50
Lagu Cublek Cublek Suweng pasti diciptakan cuman lima menit dan menurut gw liriknya tuh nggak ada maknanya. Tapi menurut gw itu tetap musik.
28ipied
wrote on 5 March 2010 at 12:55
musik yang berjiwa, entah saya yang ndak pernah denger atau emang sudah gak ada musik berjiwa itu…
setuju sama yang komen: musik itu relatif, kalo malasah selera ya dimana-mana relatif kok gak cuma musik
29queen
wrote on 6 March 2010 at 13:59
musik sedang sakit el, dia sekarat.
butuh obat biar sembuh
30elia bintang.
wrote on 6 March 2010 at 15:20
@tary ya begitulah.. band jelek pun bisa jadi raja. ga ada standar yg jelas
@senny sbnrnya tetep harus ada standarnya kl mnrt gue
@yolanda produser udh ga peduli mutu sekarang ini
@jensen99 kl saya sih sbnrnya bukan mempermasalahkan alay2 gitu.. tapi ke standar dan mutu
@vicky saya blm pernah menganalisa lagu itu sbnrnya.. mungkin ada muatan seninya. kali yah
@ipied bangsa ini bermasalah dgn standar. ga hanya musik. dlm banyak hal jg begitu. ga ada yg berani mendobrak status quo
@queen ini baru gue setuju
31dita.gigi
wrote on 9 March 2010 at 11:19
musik itu yg penting bikin hati seneng.. kalo denger musik, terus kepala mumet mikir nya, mending gak usah didengerin.. makanya org2 lebih milih bikin musik yang “gampang”
32leonardo
wrote on 27 March 2010 at 14:22
hoho. idealis. go go go! *toss