Anomali

Friday, 23 July 2010, 11:50 | Category : Nongkrong, Tulis-Menulis
Tags :

Now roasting. Itulah tulisan yang tertera di kain berukuran besar yang terpampang di depan kafe ini. Huruf-hurufnya berwarna putih, latar belakangnya coklat tua; cukup menarik hingga mampu menyedot orang-orang yang melintas untuk mencicipi kopi andalannya yang khas Indonesia.

Kakiku melangkah masuk. Tanganku menggenggam tangan kekasih. Sudah sejak berminggu-minggu yang lalu nama kedai kopi ini terngiang-ngiang di kepala. Akhirnya kesampaian juga.

karung goni

Nyaman. Itulah kesan yang kutangkap saat memerhatikan interior ruangan. Dindingnya batu bata, perabotannya kayu, ornamennya karung goni yang ditaruh sedemikian rupa di sudut-sudut seolah dibiarkan terserak serampangan.

Anomali Coffee, itulah nama kafe ini, dan di balkonnya kami duduk menikmati petang. Kekasihku menyesap kopi mandailing-nya. Aku menyedot—okay, ini standar khas orang konservatif, padahal aku tidak konservatif; hanya sedang malas mikiriced cappucino yang sedikit pahit.

Orang-orang berseliweran sana-sini, kiri-kanan, depan-belakang; masing-masing memiliki mimpi dan cerita hidupnya sendiri-sendiri. Bicara cerita, naskahku yang berjudul “Anomali” pun sudah rampung sejak tanggal 15 bulan ini. Kini, ada dua opsi penting yang sedang kupertimbangkan: mencari penerbit atau self-publish.

Tentu saja aku tak hanya menimbang-nimbang secara pasif. Aku telah menyebar naskah itu ke beberapa penerbit, sekaligus memikirkan masak-masak tentang langkah yang harus kuambil jika self-publish.

Tanpa terasa, hari beranjak malam. Jalanan masih penuh sesak dengan kendaraan bermotor yang tanpa henti bersahut-sahutan klakson. Namun, apa boleh buat, waktu tak bisa diulur lagi. Kami bergegas pulang.

Karcis parkirnya hilang.

Buyung Tattoo House

Wednesday, 21 July 2010, 0:09 | Category : Serba-Serbi Masyarakat
Tags :

Tumben, siang itu jalanan tampak lengang. Tak ada kemacetan atau antrian menyemut di ruas mana pun. Saya ingat-ingat, ini hari Jumat, pukul 12.15. Oh, pantas… Orang-orang sedang shalat jumat.

Saya pun dapat menyetir dengan nyaman, tak harus bolak-balik lirik spion, injak kopling, oper gigi, dan seterusnya. Pacar saya duduk di jok sebelah. Di tangannya tergenggam secarik kertas bergambar matahari tribal. “Keren ya desainnya,” katanya.

Saya tersenyum. Mesin mobil berderum. Dua puluh menit kemudian, setelah menyusuri kawasan Gatot Subroto, Tendean, dan Kemang, kami tiba di rumah tato favorit saya. “Halo, bang.”

Bang Buyung

Pria berambut cepak itu sedang duduk berselonjor di ruang depan, tempatnya menggoreskan sebagian besar karyanya. “Oi… Masuk masuk,” balasnya. Namanya Buyung. Orang Padang, tepatnya Sungai Limau.

Beberapa tahun silam, saya ke sini atas rekomendasi teman. “Salah satu yang terbaik,” kira-kira begitu yang dia bilang. Dan memang, setelah melihat hasil kerjanya, saya tak berpikir untuk dirajah tattoo artist lain.

Tanpa berlama-lama, ia mulai menorehkan kuas jarumnya di kanvas punggung saya. Hujan turun. Bunyi rintiknya mengiringi perih yang mendera kulit. Sesekali saya meringis. Ternyata ditato di punggung lebih sakit ketimbang di lengan.

Tepat 27 menit, tatkala hujan kian berderai, matahari telah berpijar di punggung saya. Sempurna. Persis yang saya inginkan. “Ayo, sayang, giliran kamu,” ujar saya sambil menggamit lengan kekasih.

Dan Bang Buyung kembali berkarya…

Rekayasa Paul

Friday, 16 July 2010, 11:21 | Category : Bola
Tags :

Kemarin pagi, saya membolak-balik halaman Kompas untuk mengusir kantuk. Setangkup roti dan secangkir teh tarik tersaji di meja. Setelah lima menit “membaca”, mata saya nyangkut pada sebaris kalimat.

Paul si Gurita

Paul si Gurita akan jadi tamu kehormatan Spanyol.

Kurang lebih begitulah tulisan yang saya baca. Saya jadi berpikir, apa benar seekor gurita bisa sesakti itu. Ramalannya akan partai-partai berat Piala Dunia tak satu pun meleset. Kok rasanya terlalu berlebihan, ya…

Jujur, logika saya tak termakan oleh pemberitaan itu. Yang terbersit di kepala saya hanya satu hal: akal-akalan bisnis. Skenario. Siasat untuk mengeruk uang sebanyak-banyaknya. Salah? Jelas tidak.

Bagaimana jika ada banyak otak di balik “terawangan” Paul? Otak yang tentu saja berukuran lebih besar dari otak Paul.

Ini adalah kerja tim yang beranggotakan kumpulan analis handal dan pemelihara Paul. Beberapa hari sebelum pertandingan berlangsung, para analis itu akan menganalisa kemungkinan pemenang berdasarkan sejarah, statistik, dan kondisi terkini tim.

Nah, bagaimana agar Paul memilih kotak yang ditempeli bendera negara yang diprediksi menang? Taruh saja makanan kesukaannya. Kotak satu lagi ditaruh makanan yang kurang ia suka. Gampang lah menyiasati beginian. Pemilik Paul pasti tahu.

Hap! Paul memilih makanan dalam kotak berbendera Spanyol.

Lantas, masa sih akurasinya bisa seratus persen? Okay, ada beberapa hal teknis yang saya gamit dari sana-sini, yang mungkin berperan dalam prediksi hasil. Ada dua konsep permainan yang umum diterapkan tim sepak bola, yaitu possession football dan bermain pragmatis (bertahan dan menyerang balik). Tim yang mengandalkan penguasaan bola biasanya melakukan passing di atas 400 kali per pertandingan, sedangkan tim pragmatis selalu di bawah 300. Tim yang tidak jelas (antara 300 dan 400) selalu tersisih di tahap awal.

Berdasarkan statistik ini saja calon pemenang sudah dapat diprediksi. Inggris kontra Jerman? Jelas Jerman. Inggris tak memiliki konsep jelas. Jika menemui pertandingan yang lebih sulit, pelajari statistik lain dengan lebih rinci.

Jadi, setidaknya menurut saya, Paul hanya gurita biasa. Tak ada yang magis.