Anomali
Now roasting. Itulah tulisan yang tertera di kain berukuran besar yang terpampang di depan kafe ini. Huruf-hurufnya berwarna putih, latar belakangnya coklat tua; cukup menarik hingga mampu menyedot orang-orang yang melintas untuk mencicipi kopi andalannya yang khas Indonesia.
Kakiku melangkah masuk. Tanganku menggenggam tangan kekasih. Sudah sejak berminggu-minggu yang lalu nama kedai kopi ini terngiang-ngiang di kepala. Akhirnya kesampaian juga.

Nyaman. Itulah kesan yang kutangkap saat memerhatikan interior ruangan. Dindingnya batu bata, perabotannya kayu, ornamennya karung goni yang ditaruh sedemikian rupa di sudut-sudut seolah dibiarkan terserak serampangan.
Anomali Coffee, itulah nama kafe ini, dan di balkonnya kami duduk menikmati petang. Kekasihku menyesap kopi mandailing-nya. Aku menyedot—okay, ini standar khas orang konservatif, padahal aku tidak konservatif; hanya sedang malas mikir—iced cappucino yang sedikit pahit.
Orang-orang berseliweran sana-sini, kiri-kanan, depan-belakang; masing-masing memiliki mimpi dan cerita hidupnya sendiri-sendiri. Bicara cerita, naskahku yang berjudul “Anomali” pun sudah rampung sejak tanggal 15 bulan ini. Kini, ada dua opsi penting yang sedang kupertimbangkan: mencari penerbit atau self-publish.
Tentu saja aku tak hanya menimbang-nimbang secara pasif. Aku telah menyebar naskah itu ke beberapa penerbit, sekaligus memikirkan masak-masak tentang langkah yang harus kuambil jika self-publish.
Tanpa terasa, hari beranjak malam. Jalanan masih penuh sesak dengan kendaraan bermotor yang tanpa henti bersahut-sahutan klakson. Namun, apa boleh buat, waktu tak bisa diulur lagi. Kami bergegas pulang.
Karcis parkirnya hilang.



