Posts Tagged ‘serius dikit ahh’

XXIV!

“Some people get struck by lightning. Some are born to sit by a river. Some have an ear for music. Some are artists. Some swim the English Channel. Some know buttons. Some know Shakespeare. Some are mothers. And some people can dance.” – Benjamin Button

Semua orang berarti. Semua orang pantas dicintai. Semua orang pantas bahagia. Semua orang memiliki hak yang sama. Yang membedakan kita adalah peran yang kita mainkan dalam hidup.

Aku adalah seniman. Mungkin kalian adalah nelayan, petani, tukang sapu jalanan, tukang potong rambut, pengusaha, pengacara, dan seterusnya. Kita semua sama. Bayangkan dunia ini tanpa kalian. Tanpa kita.

Sayangnya, mereka yang picik acapkali mengecilkan kita. Persetan.

Sesuai dengan peran yang diperuntukkan bagiku, aku akan selalu berusaha mengalirkan kata dan nada agar kalian dapat meneguk kebahagiaan. Agar kamu terhibur dalam masa-masa kesesakan. Dan tersenyum lagi.

Hari ini, umurku berkurang setahun, namun semangatku masih sama. Jiwaku belum renta. Kamu – pendar matamu dan rona bahagiamu – adalah mentari yang aku edari. Pemantik inspirasiku untuk terus maju.

le-bridge5

Happy birthday to me!

*Photo by Sa Sha

Tangan Dingin!

Melihat Inggris tersingkir dari ajang Piala Dunia, saya jadi teringat akan percakapan kami – saya dan kekasih – kira-kira sebulan silam. Kala itu, di sebuah kafe di daerah Tebet, saya melontarkan pertanyaan yang kira-kira begini…

“Kenapa harus Alexander the Great atau Napoleon Bonaparte? Memangnya ga ada orang yang lebih mahir atau lebih terampil dari mereka pada zaman itu? Kenapa harus mereka yang naik, bukan orang lain?”

soldier

Menurut saya, para pencetak sejarah adalah mereka yang secara konsisten menggali dan menajamkan X-Factor, sembari bekerja keras.

Kebanyakan orang bekerja sangat keras dan berharap luck menghampiri mereka. Saya pikir, itu terbalik. Tak ada satu orang pun di dunia yang sukses karena kerja kerasnya sendiri. Banyak faktor yang berperan.

Malcolm Gladwell, dalam buku Outliers, mengatakan, “Pohon tertinggi di hutan adalah pohon yang mendapat cahaya matahari langsung, tak terhalang oleh pohon lain ketika tumbuh, dan memiliki bibit yang bagus.”

Jadi, orang sukses itu tak hanya memiliki bibit bagus (hal yang selama ini kita kejar: skill, dll). Kita gak bisa mengabaikan aspek cahaya matahari dan “pohon” lain yang menghalangi.

Bicara X-Factor atau luck atau tangan dingin, hanya segelintir orang yang memilikinya. Kembali ke soal Inggris, saya berharap Capello mampu membawa Inggris ke tingkat tertinggi sepak bola. Ternyata harapan saya sia-sia.

Capello bukan Mourinho, seorang pelatih yang tak hanya history maker, namun juga history breaker. Di dunia bola, menurut saya dan mungkin mayoritas penggila bola, Mourinho-lah yang paling bertangan dingin dan punya sentuhan emas.

Seperti Nelson Mandela di dunia politik.

Masa Depan!

Kamis lalu, gue dan Sonicflux (band gue) dapet gig di suatu acara yang namanya Obrolan Langsat. Di sana, kita diskusi dan jamming bareng pengisi acara yang lain. Ada Endah n’ Rhesa, Adhitia Sofyan, dan Masmo Notturno. Diskusinya sendiri bertema “Musik dan Media Sosial” dan dimoderatori oleh Adib Hidayatmanaging editor majalah RollingStone – dan Ndoro Kakung yang terkenal itu. Hehe…

Ada beberapa statement menarik dari mereka yang akan gue kutip…

“Media sosial adalah media termudah dan termurah untuk memasarkan musik.” – Adib Hidayat

“Kita menjual tujuh belas ribu keping CD album pertama kita dan media sosial memegang peranan penting. Kita juga ada mail order untuk pesan CD dan merchandise.” – Endah n’ Rhesa

Ada semangat yang berbeda dari industri pop konvensional…

“Album pertama saya di-download tiga ribu orang dalam dua hari pertama dan itu gratis. Saya cari uang lewat gigs.” – Adhitia Sofyan

“Silahkan direkam. Silahkan dibajak. Suka atau tidak suka, beritahu temannya.” – Masmo Notturno

Ada filosofi, jika bukan harga mati, yang tidak bisa dibengkokkan kapitalisme…

“Saya harus punya kontrol penuh atas musik saya.” – Adhitia Sofyan

“Saya terbuka atas kerjasama dengan major labels selama mereka melakukannya dengan cara saya.” – Elia Bintang dari Sonicflux

Namun ini tidak berarti musisi indie lebih baik dari musisi major. Tidak juga sebaliknya.

“Gak semua musisi major itu jelek dan ga semua musisi indie itu keren.” – Adib Hidayat

Jalan mana yang kita pilih dan industri apa yang kita geluti, pilihan ada di tangan kita.

Gue memilih jalan yang visioner. Ada segudang teori di kepala dan hasil di lapangan yang membuktikannya.

600 fans di Facebook Page Sonicflux dalam waktu sebulan

134 Twitter Followers juga dalam waktu sebulan

1500 hits di situs Sonicflux dalam waktu sepuluh hari

100 subscribers situs Sonicflux dalam waktu sepuluh hari

54 downloads lagu Sonicflux juga dalam waktu sepuluh hari

Data di atas belum termasuk gigs dan perjanjian kerjasama yang kami buat dengan pihak-pihak ketiga. Sonicflux sendiri adalah band yang baru berusia dua bulan.

Pakar-pakar komunikasi menyebut abad 21 ini adalah abad komunikasi atau abad teknologi informasi. Ada cara yang sudah usang dan ada cara baru yang muncul ke permukaan. Beradaptasi atau tergilas roda zaman? Pilihan ada di tangan anda.

…dan malam itu ditutup indah dengan alunan nada “Bengawan Solo” untuk mengenang almarhum Gesang, sang maestro.

Laman ini adalah upaya penulis mempertemukan kata untuk menemukan makna. Artikel baru terbit setiap Senin. Lebih dari itu adalah iseng.

Terima kasih sudah berkunjung!

Recommendation

Desain blog ini dan blog Sonicflux (http://sonicfluxmusic.us) adalah karya JDCP, seorang sahabat yang selalu mampu menerjemahkan selera dan karakter saya dalam desain-desainnya.

Hubungi jdcp.online@gmail.com untuk membuktikannya.

Tweets